Festival budaya soppeng yang pertama kali di selanggaran di galung langi'e yang berada di kecamatan donri-donri 3 tahun silam. Foto ini di ambil oleh salah satu peserta lomba foto, yang sengaja saya blur supaya kesannya lebih membuat penasaran si pembaca heheh. Subjektifitas setiap orang akan selalu terasa bilamana Ia melihat dengan jelas seorang wanita yang berbusana tradisional sehingga latar belakang seseorang menjadi pendukung dalam menilai sesuatu.
Asal suku bugis
Kita bahas dulu yah.. sedikit tentang asal suku bugis, menurut artikel yang pernah saya baca, bahwa suku bugis ini berasal dari suku-suku melayu deutero masuk di nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari dataran Asia tepatnya yunan. Tau ugi (orang bugis) penamaannya berasal dari nama raja Cina yang berasal dari pammana kabupaten wajo yaitu lasattumpugi sehingga orang-orang menjuluki dirinya tau ugi atau orang yang mengikuti raja lasattumpugi.
Rupa wanita bugis
Dari setiap wilayah bugis, mulai dari luwu,bone,soppeng,wajo,barru,pare-pare dan daerah peralihan bugis dengan makassar yaitu bulukumba,sinjai,maros,pangkajene dan kepulauan juga daerah peralihan bugis dengan mandar yaitu polmas dengan pinrang. Masing-masing memiliki rupa yang berbeda-beda, saya teringat kisahnya sawerigading yang ingin menikahi saudara kembarnya we tenriabeng karena pandangan pertama. Juga kisah anak adam yaitu qabil yang membunuh saudaranya habil dari perseteruan ingin menikahi saudara kandungnya sendiri juga karena rupa. Berbicara soal rupa bagaimana yah seseorang menanamkan standar dalam dirinya? bukankah terlalu Sering kita mendengar dan melihat individu di sekitar kita sehingga kita anggap individu itu memiliki rupa yang elok. Sepertinya akal ini terbiasa dengan struktur wajah dengan penilaian orang maupun pola berfikir individu namun bagi saya masing-masing punya value tersendiri.
Uang panainya mahal
selain bahasa serta adat yang menjadi ciri khas orang bugis, lagi - lagi sebagian orang yang memiliki harta lebih, membuat tradisi ini tak pernah menjadi asing dimata masyarakat yaitu perihal uang panaik/atau kerelaan si pria memberikan harta bendanya untuk si calon pengantin wanita. Huh langsung kah lesuh bahas ini, seperti nya banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya yaitu indentitas sosial serta kelas di masyarakat juga yang tak pernah punah adalah persoalan gengsi. Tidak bisaka kurasa bahas panjang lebar soal ini, yang pastinya ada sebagian individu di belahan bumi ini yang pernah kecewa perihal uang panai tinggi sehingga ke dua insan tak sempat berucap janji, sayang sekali yahh.. maksud saya toh ada baiknya di bicarakan dengan penuh pertimbangan dalam kegiatan Appaserekeng yaitu utusan pria berkunjung ke rumah mempelai wanita untuk membicarakan perihal uang panaik dan mahar, agar masing-masing keluarga tak merasa terbebani oleh moral maupun materi.
Zaman dulu
sampai sekarang, saya masih merasa penasaran dengan tokoh we tenriabeng yang banyak di ceritakan dalam epik lagaligo, di lain sisi ada juga perasaan apakah semua ini hanya cerita rekayasa orang dulu untuk mengabadikan sebuah tradisi serta budaya. Kita sebagai cucu dari keturunan yang berasal dari suku bugis sudah sepatutnya lebih banyak mencari literasi serta melihat bukti-bukti sejarah, sebab dengan itu semua bisa jadi membuat kita yakin serta percaya tentang sejarah.
Comments
Post a Comment