Skip to main content

Puncak Appaserenge, Bulan Yang Berulang

Apa kado yang kamu inginkan?, bergumam tanpa gema di bulan yang sama dalam sekali setahun, yaa..  ini hari kelahiranku tak seperti tahun-tahun biasanya ucapan silih berganti berdatangan, beragam doa terumbar lewat media sosial.  Mmm.. ada yang beda dari biasanya mungkin karena sengaja ku sembunyikan sebab saya terlalu kaku mengakui hari jadi ini, tak ada yang spesial ku persembahkan setahun ini kepada diri karena itu saya merasa malu terhadap manusia, bumi juga tuhan. 

 
Puncak salah satu pilihan. 
Setiap hari ini tiba,  saya lebih senang mengasingkan diri, kembali merenungi peristiwa - peristiwa yang ku alami setahun lalu. Seperti halnya soe hok gie yang mendaki di puncak semeru untuk merasakan momen bertambahnya usia namun ajalnya telah datang di detik - detik bertambah umurnya. Sudah saya katakan sebelumnya di tulisan - tulisan yang lalu bahwa tak ada waktu yang begitu spesial semua sama setiap hari penting bagi kita untuk lebih banyak berbenah diri juga berserah diri sebab waktu tidak akan pernah terulang. Puncak appaserenge 1000 an lebih mdpl (meter diatas permukaan laut)  menjadi tujuan kami selanjutnya,  beranjak dari ujung timur ke barat menepikan segala pekerjaan dan menaruh banyak harapan. 

Dari situs petta bulu matanre. 
Hampir saja matahari terbenam cukup dalam hingga menarik cahaya nya, sedikit lagi waktu magrib tiba di tempat ini kami memulai perjalanan, tempat ini pula sudah tak menjadi asing lagi ketika pertemuan pertama kali kami.  Kalian bisa baca di tulisan saya sebelumnya yang berjudul Tanah Datu, yang lebih menceritakan pengalaman kami dengan lokasi ini. Saya menulis tulisan ini dengan jarak peristiwa yang kami alami kisaran 2 mingguan lalu di karenakan yahh.. penyakit malas sedang mengajak saya berkencan cukup lama. 

Setiap jalan
Suara hewan bergantian bersaut - sautan membentuk harmoni yang begitu apik di dengar, suara gerak kaki tak ubahnya bunyi gendang yang mengiringi suara alam, jalan nya tak semulus bentangan jalan tol hingga sesekali kaki ini berlumur lumpur bahkan terpleset gara - gara tak mampu menyeimbangkan tubuh di karenakan si jalan tadi. Hari itu hujan tak pernah menyambangi kami mungkin si hujan sedang menyambangi daerah lain yang lebih membutuhkan. Medan yang kami lalui untuk sampai di puncak tak terlalu terjal hanya ada beberapa pendakian saja selebihnya jalurnya landai kok tapi walaupun saya berasumsi demikian, setiap orang punya value tersendiri tentang jauh dekat atau landai dan terjal jadi ini hanya penilaian saya sendiri. 

Buanglah sampah di sembarang tempat! 
Heh kenapa kalimat diatas tak selaras dengan informasi di gambar? Tunggu dulu saya coba edit kembali ya.. Buanglah sampah di tempat sembarang! Kacau sekaliki eki memberi pernyataan, iyaiya maaf saya rasa kalimat jangan membuang sampah disembarang tempat sudah familiar di telinga saya, makanya saya coba balik pernyataannya. Bisa kita saksikan di sekitar kita masih banyak manusia yang membuang sampah di sembarang tempat,  toh kenapa kita malu untuk memberi informasi tentang membuang sampah lah di sembarang tempat,  hehehe tak usah merasa sebagai sosok yang peduli dengan lingkungan kalau kita masih menyempatkan untuk membuang sampah di sembarang tempat. Informasi ini dapat kita lihat ketika hendak menggapai puncak appaserenge walaupun niat teman-teman di wakilkan oleh sebuah pernyataan setidaknya sudah memberi manfaat bagi sebagian orang. 

Puncak appaserenge
Setelah berjalan kurang lebih 25 menit dari situs petta bulu matanre, tiba lah kami di ketinggian 1000 an lebih, dari sini pandangan mata amat lah luas dan jika udara sedang membaik pegunungan enrekang begitu nampak menjulang tinggi. Kami tiba disaat magrib tak kudengar suara adzan berkumandang hanya dapat melihat cahaya di kejauhan dari beberapa wilayah, dari titik ketinggian tak sekali pun angin kencang menyapa kami,  hanya angin - angin rindu pembawa kabar gembira membisiki telinga saja. 


Matahari terbit
Awalnya kami di puncak berdua saja namun berlarutnya malam berbarengan pula kelompok - kelompok pendaki yang berdatangan sampai - sampai tak menyisahkan sedikit tempat untuk mendirikan tenda lagi, malah sebagian memilih untuk ke puncak sebelah mendirikan tenda. Pagi hari nampak semesta begitu indah seperti pujaan hati yang bertaut di hati heheh, seperti pasangan muda-mudi yang sedang di landa cinta. Semua nampak tenang dan damai yang selaras di setiap sudut pandangku. 
Selalu ada saja harapan yang belum nyata, kita sebagai manusia hanya bisa mencoba dan mencoba lagi seperti tangga yang patah dan kembali kita benahi lalu di lalui kembali seperti halnya kehidupan yang tak semulus rencana baikmu. Sempat terlintas dipikiranku saat ini tentang sebuah kenyakinan yang lemah mungkin benar dari buku Dr. Ibrahim elfiky keyakinan yang lemah membuat harapan tak pernah tercapai. 

Jika kalian penasaran dengan aktivitas kami silahkan lihat dokumentasinya: 
klik 

Comments

Popular posts from this blog

Indonesia Dengan Sampahnya

   Foto yang di ambil dari IG:  @Dandhy_laksono Film documentary yang di sutradarai oleh Sindy febryani telah rilis kemarin sabtu, 6 maret 2021 di kanal youtube Greenpeace indonesia. Dalam video berdurasi 34 menit 35 detik ini kita di ajak langsung melihat aktivitas seorang tokoh Gustika jusuf  selaku host dalam film #nyampah, mulai dari ia memproduksi sampah pribadi, kemudian kita di ajak berkunjung ke salah satu rekannya yang mengolah sampah pribadi serta menyambangi salahsatu organisasi ICEL (indonesian center for environtmental law) disini kita diajak untuk mengetahui tentang hukum lingkungan.  Bantar gebang   tempat pembuangan sampah yang berada di jakarta ini,  sering kali teringat dalam pikiran saya mungkin namanya sudah tenar seperti para aktor di indonesia namun bedanya jika mendengar kata aktor muncul sosok yang terbayang di benak entah soal ketampanan, skill maupun meterinya tetapi kalau dengar Bantar gebang penampakan jorok, kum...

Anak Teknik

Hari ini seorang sarjana Teknik kerja dengan teknik,  tapi bukan seperti si doi kamu yang kerjanya di pertambangan, kantoran, atau sejenisnya "mereka patut di banggakan karena prestasinya" nah saya beda dengan mereka kerjanya cuman pasang tenda pengantin yang belum jadi penganti miris kan?, "sudah-sudah jangan selalu merendahkan diri" iya terimakasih nasihatnya.  mmm... dari sudut pandang lain, tuhan memang tahu kalau saya terbiasa dengan ketinggian jadi rezekinya dari usaha pasang tenda. " Jadi kalau kalian mau buat pesta perayaan jangan lupa berkabar ya heheh."  Tidak ada yang tahu esok kita akan jadi seperti apa dan bagaimana, dulu sewaktu Sd sukanya menggambar juga olahraga sepak bola sampai Smp, tamat Smp sepak bolanya masih lanjut Menggambar nya tidak, pas kuliah olahraga sepak bolanya berkurang digantikan dengan penggiat alam hingga jatuh hati kepadanya. "trus kenapa kamu ambil jurusan teknik? Ga ada nyambung-nyambungnya dari hobi kamu panjul!....