Sebagian orang memilih untuk pergi ketika masalah yang di hadapinya tak kunjung usai, namun sebagian juga memilih untuk tinggal mempertahankan dan melebur, 2 hal yang tak selaras menjelma bagai pemangsa yang siap menerkam siapa saja. Pilihanlah yang menjadi penentu dari sekian peristiwa setelahnya, namun akal hanya dapat memprediksi bukan memastikan.
Harusnya kita pandai memperhitungkan kondisi, akibat situasi yang semakin menentukan kecepatan ini, bisa jadi salah satu dari kita memilih hal bukan yang terbaik untuk kita namun terbaik hanya untuk kacamata di setiap orang. "Saya tertarik menuangkan kata frekuensi, sebab karena nya wujud yang beda namun isi yang sama membuat ikatan yang saling berhubungan."
"sepertinya alur ceritanya akan masuk pada kisah romantisme nih."
"Mmmm.. kalau saya ubah ceritanya akan banyak kalimat dan banyak hal serta pelajaran yang pastinya setiap orang pernah merasakan bagaimana ia menyakiti dan tersakiti." Tapi untuk sekarang ini semua itu hanya menjadi koleksi pribadi kita sendiri simpan lah di album memori yang tak terlalu dalam juga tak terlalu dangkal hehehe.
"Bagus kayaknya buat ki api unggun."ujar rekan seperjalanan, malam itu selain lokasinya di kelilingi pepohonan juga anginnya cukup sedang cocok lah bagi saya untuk menyalakan api tapi harus terjaga. Picture di atas adalah koleksi perjalanan selama lintas di pegunungan Soppeng kalian bisa baca di tulisan sebelumnya yaitu "Tanah Datu", sembari menunggu pergantian tahun momen ini akan menjadi momen yang pertama kali melihat letusan kembang api dengan sudut pandang yang sangat jauh tanpa suara letusan.
"kenapa kamu memilih meninggalkan keramaian untuk beberapa hari kedepan?."
Ini semua karena saya pernah berniat yang berujung memilih bukankah kita tak pernah lepas dengan sikap memilih? bagaimana pun hasil akhirnya tak kan pernah merubah pilihan, yang bisa kita ubah.. hanya lah penilaian sehingga membuat diri berfikir positif atau negatif.
Comments
Post a Comment