Skip to main content

Majene, perjalanan toyota hilux abu - abu

Setelah mengumpulkan donasi selama tiga hari kami beserta beberapa rombongan dari Karang taruna Tetewatu, NU, Muhammadiyah, kampus algazali juga tim paskas bertolak dari soppeng menuju majene,  sabtu 23 januari 2021. Titik kumpul berada di kediaman ustadz sukri. Pukul 7 lewat saya beserta rekan dari organisasi pemuda di desa,  berangkat dari kampung halaman menggunakan motor bebek yang sudah di modifikasi ala motor trail, walaupun sangat menguras tenaga ketika di bonceng soalnya menahan beban tas,  juga mempertahankan keseimbangan tubuh. Hal itu perlu di rasakan sebab kendaraan rekan saya tak standar lagi. Kurang lebih setengah jam kami pun tiba di rumah ustadz sukri di jl. Lapajung, sudah ada beberapa tim yang sampai duluan mereka sedang mengatur barang di mobil Toyota hilux mulai dari bahan pokok makanan, minuman, pakaian, obat-obatan serta perlengkapan bayi. 

Setelah muatan mobil pertama dirasa penuh maka barang tersebut kami bungkus dengan terpal agar tak basah bila terkena hujan juga supaya barang tak bergerak. "Sepertinya logistik masih banyak."bergumam dalam hati,  tiba - tiba ustadz sukri mengabari kendaraan lainnya type mobilnya sama namun mobil ini sayang sekali terlambat datang bebannya lebih ringan dibanding mobil Toyota hilux pertama yang bebannya sudah melewati batas penggunaan. Mau di bongkar waktu berangkat sudah molor jauh, akhirnya perasaan lebih tajam dibanding teori heheh. Hampir masuk shalat dhuhur kami berangkat dengan 8 mobil namun 2 kendaraan lebih dulu berangkat nanti setibanya di polewali baru kembali bergabung. 


"Tiba waktu makan. " setelah beberapa jam di perjalanan dan cukup membuat organ dalam tubuh berontak kami pun berhenti sejenak di daerah sidrap hampir masuk di perbatasan pinrang sih. Suana di sini cukup nyaman untuk beristrahat, beberapa orang sibuk mengambil makanan di mobil bekal yang sedari tadi di siapkan, satu persatu di antara kami makan dengan lahap saya rasa cukup menambah energi agar tiba di tempat berikutnya tanpa merasa kelaparan. Sambil duduk menikmati pemandang tiba-tiba tak di sengaja saya melihat senior semasa kuliah dulu,  bg Adhi namanya beliau angkatan 2007 teknik sipil sempat di tawari untuk singgah sebentar di rumahnya namun saat ini bukan waktu yang pas untuk berkunjung di kediamannya soalnya saya berangkat dengan beragam kelompok takut kalau kepentingan lainnya habis karena saya. Ucapan terimakasih dan lain kali serasa balasan yang cocok membalas ajakannya. Tak beberapa lama rombongan telah bersiap kembali menempuh perjalanan panjang. 

"Polewali"- jalur pinrang membuat saya kembali mencetak di otak tentang pengalaman-pengalaman susur hutan dan gunung, deretan bukit menjulang tinggi serta sawah hijau mengisi sudut pandang mata, daerah lembang membuat saya terkesima bagi orang yang baru pertama kali melewati jalur ini. Setibanya di polewali kami singgah di rumah kerabat salah satu rombongan, tak di sangka ada makanan yang sedang menanti kedatangan kami kalau di lihat dari menunya sepertinya situasi ini sudah disiapkan jauh sebelum keberangkatan. Setelah beristrahat yang cukup lama para rombongan pun pamit kepada tuan rumah agar melanjutkan perjalanan, di jalan kami di hibur oleh para relawan kemanusiaan yang masih saja berjuang mengumpulkan uang untuk korban gempa mereka bernyanyi sambil memegang kotak karton. Di polman kami juga menemukan hal serupa bahkan sudah beragam kelompok ada dari perguruan pencak silat, para anggota pramuka dan rombongan pengangkut logistik senantiasa berdatangan dan pulang dengan suka cita saling menguatkan sesama para relawan kemanuasiaan. 

"Majene"- hingga waktu shalat magrib tiba, rombongan sampai di wilayah majene tapi bukan wilayah yang terkena dampak gempa cukup parah. Mesin mobil pun dimatikan beberapa rombongan bergegas masuk di dalam masjid menunaikan ibadah shalat, seusai shalat kami pun kembali melanjutkan perjalanan.  Saat tiba di polsek majene sebagian rombongan turun untuk berkordinasi kepada salah satu rekan dari organisasi nya di walayah majene, kami pun di arahkan ke wilayah malunda untuk sejenak beristrahat sambil menunggu fajar tiba, sebagian kelompok dari kab. wajo membongkar logistiknya pada malam itu juga,  di salah satu rumah rekan seorganisasi nya muhammadiyah kalau teman se rombongan dari muhammadiyah kab.soppeng besok pagi baru membongkar barang, sepertinya karena sudah letih terkuras selama di perjalanan. 

"Majene, malunda"- semalam walau tidurnya larut malam tapi cukup nyenyak tidur di kolom rumah padahal tadi malam beberapa warga sedang berpatroli di rumahnya sebagian keluarga lainnya sudah meninggalkan rumah dan mengungsi di dataran lebih tinggi saat gempa ke dua,  katanya takut jika ada gempa susulan dan terjadi sunami seperti di palu, ahhh.. perkataan warga membuka file negatif di otakku bagaimana kalau sementara tidur terjadi gempa lagi, bagaimana kalau rumahnya roboh dan bagaimana..nanana..  sebelum tidur saya pasrahkan semuanya kepada pemilik jiwa jika memang sudah waktunya jiwa ini terpanggil tidak memandang waktu dan tempat pasti seseorang merasakan mati. Alhamdulillah semalam tak ada gempa berarti sudah dua hari di majene tak merasakan getaran, semoga bumi sudah merasa baikan. 

Seusai sarapan pagi dengan segelas pop mie,  kami bertolak dari malunda menuju daerah tappalang, di sepanjang jalan terlihat rumah retak hingga roboh sebagian penghuninya memilih mengungsi di depan rumahnya sendiri beratapkan tenda. Selama perjalanan kami senantiasa dikawal oleh aparat kepolisian dari polres soppeng jadi di jalanan kami tidak mendapatkan banyak rintangan mulai dari kemacetan juga hadangan yang anarkis. 

"Tappalang"- ini lah potret sebagian penduduk tappalang, yang lainnya berada di gunung belakang rumah mereka, kami pun menurunkan muatan di salah satu rumah penduduk yang di jadikan sebagai posko relawan. Yang menjadi permasalahan ketika memberikan bantuan adalah teknik penyalurannya saya berkaca ketika penyaluran bantuan ke masamba. Masih banyak orang yang beramsumsi bahwa memberikan bantuan dikarenakan sama suku, sama agama bahkan karena ikatan keluarga padahal menolong itu tanpa memandang kelas. belum lagi ada yang lebih mengutamakan pencitraan dibanding penderitaan. Minggu, 24 januari 2021








Comments

Popular posts from this blog

Indonesia Dengan Sampahnya

   Foto yang di ambil dari IG:  @Dandhy_laksono Film documentary yang di sutradarai oleh Sindy febryani telah rilis kemarin sabtu, 6 maret 2021 di kanal youtube Greenpeace indonesia. Dalam video berdurasi 34 menit 35 detik ini kita di ajak langsung melihat aktivitas seorang tokoh Gustika jusuf  selaku host dalam film #nyampah, mulai dari ia memproduksi sampah pribadi, kemudian kita di ajak berkunjung ke salah satu rekannya yang mengolah sampah pribadi serta menyambangi salahsatu organisasi ICEL (indonesian center for environtmental law) disini kita diajak untuk mengetahui tentang hukum lingkungan.  Bantar gebang   tempat pembuangan sampah yang berada di jakarta ini,  sering kali teringat dalam pikiran saya mungkin namanya sudah tenar seperti para aktor di indonesia namun bedanya jika mendengar kata aktor muncul sosok yang terbayang di benak entah soal ketampanan, skill maupun meterinya tetapi kalau dengar Bantar gebang penampakan jorok, kum...

Anak Teknik

Hari ini seorang sarjana Teknik kerja dengan teknik,  tapi bukan seperti si doi kamu yang kerjanya di pertambangan, kantoran, atau sejenisnya "mereka patut di banggakan karena prestasinya" nah saya beda dengan mereka kerjanya cuman pasang tenda pengantin yang belum jadi penganti miris kan?, "sudah-sudah jangan selalu merendahkan diri" iya terimakasih nasihatnya.  mmm... dari sudut pandang lain, tuhan memang tahu kalau saya terbiasa dengan ketinggian jadi rezekinya dari usaha pasang tenda. " Jadi kalau kalian mau buat pesta perayaan jangan lupa berkabar ya heheh."  Tidak ada yang tahu esok kita akan jadi seperti apa dan bagaimana, dulu sewaktu Sd sukanya menggambar juga olahraga sepak bola sampai Smp, tamat Smp sepak bolanya masih lanjut Menggambar nya tidak, pas kuliah olahraga sepak bolanya berkurang digantikan dengan penggiat alam hingga jatuh hati kepadanya. "trus kenapa kamu ambil jurusan teknik? Ga ada nyambung-nyambungnya dari hobi kamu panjul!....