Maaf baru ada kesempatan menulis, lagi sibuk cari duit untuk modal nikah wkwkwk.. bercanda. Postingan ini harusnya lebih dulu ter publish tapi karena penyakit malas sedang melanda, jadi terlambat untuk menceritakan tentang sosok pedagang kaki lima yang tak sengaja ku jumpai. Namanya juga tulisan feature bukan hardnews yang lebih mengutamakan persoalan waktu kejadian.
"Awalnya janjian dengan beberapa teman akhirnya sendiri." Siapa yang pernah mengalami hal serupa?, minggu ceria kali ini tujuannya di appasereng'nge salah satu daerah ketinggian di Desa mattabulu pastinya sudah tidak asing lagi di dengar, yang sukanya camp di alam bebas sudah hafal betul lokasi ini dan juga mungkin ada diantara kita yang camp 2 kali seminggu waouu..
Saya start dari rumah sore hari, tampaknya cuaca kali ini cukup tenang setenang kendaraan mio soul gt biru, melaju di atas aspal yang tak semulus ketika baru jadian heheh. Tanpa melambaikan tangan serta salam karena telah mengharapkan seseorang yang ternyata bukan menjadi harapan mmm.. ya sudahlah hati ini cukup besar untuk beranjak tanpa di temani seseorang, mungkin di lain waktu kita dapat menuntaskan harapan yang dulu pernah tersia-siakan.
"Di perjalanan ada rekan lama"
Dengan seriusnya memutar gas kendaraan tanpa melihat spion di belakang ternyata ada yang ikut, beliau menyapa saya dari samping kanan ternyata rekan seperjalanan ketika lintas. Joi sapaannya yang menemani saya ketika lintas di pegunungan soppeng kalian baca saja di tulisan sebelumnya "Tanah datu."
"setibanya di kantor joi."
Sepertinya untuk sampai di puncak perkiraan malam soalnya berjam - jam saya menunggu di depan bengkel Daihatsu demi menanti rekan yang mau ikut tiba - tiba. Beliau sedang membawa komponen kendaraan mobil di bengkel jadi saya tanpa ragu menunggu hingga urusannya kelar.
"Tahu isi mas 5000." Ujarku, ia pun langsung mengambil kantong dan mengisinya dengan tahu - tahu yang baru pertama kali saya makan, lokasinya berada di depan bengkel Daihatsu. Saya mulai menanyakan asalnya ternyata ia orang bandung berarti saya panggilnya akang bukan mas. Sosoknya masih muda dari saya tapi punya pengalaman berdagang sudah lama mulai dari bantaeng menjual serupa sampai sekarang.
"Tahunya punya resep rahasia."
Pernah ada yang menawari beliau soal resepnya. Katanya ada yang mau beli resepnya tapi ia menolak karena pernah berjanji untuk me rahasiakan resep keluarganya, lagi - lagi tentang komitmen seberapa besar pun nilai tukar yang di berikan ia pantang untuk melepaskan. Kalau soal rasa sudah pasti tak di ragukan lagi, buktinya walaupun ekonomi sekarang belum pulih masih banyak orang yang berdatangan untuk membeli.
Comments
Post a Comment