
Pertama kali melewati peristiwa yang tak biasa dalam hidup saya, mencoba merasakan sepanjang perjalanan di tanah Datu ri Soppeng, ya.. Kampung halaman orang tua ini lah yang menjadi salah satu tempat terealisasinya wacana beberapa tahun yang lalu, jika akal telah mengajak, hati pun kian mengiyakan maka tak lama lagi ku pinta pada raga untuk menemani perjalanan ku. Awalnya saya ingin berangkat sendiri namun orang tua melarang jika hendak pergi sendiri sebagaimana rasa ke khawatirannya begitu dalam tersampaikan dalam bentuk kalimat lantas saya pun lekas meng iyakan bersama dengan pikiran melesat untuk mencari siapa rekan yang mau menemani perjalanan ini, alhasil sampailah pada sederet nama yaitu JOI sapaannya seorang yang juga senang berpergian apalagi kalau tujuannya hendak ke Gunung. JOI juga memiliki hubungan kekerabatan dengan saya jadi tak butuh waktu lama ia berfikir untuk menentukan apakah berkesempatan ikut atau tidak apalagi momen ini perdana bagi kita semua jadi ada semacam dorongan yang kuat mengiringi rasa penasaran kami.
janji tidak selamanya antara sesama manusia, janji dalam diri juga sama tuntutannya, kita selalu menanti kapan niat itu mampu kita tunjukan bagi diri yang pernah mengharap

Walaupun ini bukan kali pertama mendaki, ada rasa yang berbeda dari tiap - tiap perjalanan bukan soal seberapa mampunya kita untuk sampai di tempat tujuan tapi seberapa dalamnya kita memaknai dan mendapatkan apriori ( atau ilmu yang kita peroleh dari akal ) cukup membuat kita lebih tenang, lebih nyaman dan lebih banyak mensyukuri segalanya. Alhamdulillah sampailah kita pada lokasi camp pertama di puncank gunung ketinggian kisaran 700 san ke atas meter diatas permukaan laut. Segera kami mencari lokasi untuk mendirikan tenda, menyiapkan makanan untuk santapan malam juga sekedar menghabiskan waktu untuk mencari kayu bakar. Sehabis menikmati senja hingga menunggu tibanya waktu malam masakan yang telah disajikan segera kami lahap dengan lincah jujur saja kami tak sempat untuk masak siang pada hari itu hanya segelas teh hangat dan kue yang menjadi pelampiasan kami. Hari ini tepat pada hari pergantian tahun 2016 jadi mumpung lokasi camp kita cukup indah untuk memandang kota dan seluruh daerah lainnya kami pun memutuskan untuk nginap semalam lagi demi menikmati kembang api.

Kenapa kita hendak membiarkan diri untuk berkelana ?, apa yang kita dapatkan sejauh kaki dan tangan menggapai ? jadi sekarang bagaimana ?

Kali ini tak ada suara ayam yang bersaut - sautan untuk membangunkan kami, yang nampak hanyalah terang menandakan kita perlu bersiap - siap untuk bangun lebih awal menyiapkan segala keperluan pagi ini sebab sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan melewati punggungan gunung dan seberes sarapan kami pun bersiap - bersiap merapikan segala peralatan dan bekal memasukkan satu persatu kedalam carier. Sebelum meninggalkan lokasi Camp pertama, terlebih dahulu kami pamit kepada salah satu warga yang pada waktu itu sempat mengunjungi kebunnya sembari mengulurkan tangan lalu berjabat, Assalamu alaikum itulah salam perpisahan untuk tanah yang kami sandarkan pada raga agar beristrahat. Dalam perjalan melewati hutan belantara, melintasi sungai menyusuri jalan - jalan sempit berlomba dengan waktu yang kian berpacu dengan matahari, ini kali ke dua perut tak sempat bersantap siang dengan makanan seadanya tak cukup frasa metafora menenangkan cacing yang kian saja beradu bagai demonstran yang menuntut haknya. Wahh.. hari makin gelap saja tak ada lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda apalagi hal yang paling genting dan penting tak ada tanda - tanda sumber air, kera berlompat - lompatan meneriaki bagaikan melihat kami yang tak tahu arah, ku coba meminta dan berkata dalam hati sebab keyakinanku kita sangat dekat pada yang mencipta jika berkomunikasi dalam hati tak butuh waktu lama Tuhan pun membalas lantunan itu, 2 jalur arah terlihat di depan mata selamat lah kita untuk lebih cepat melepaskan beban berat di pundak juga lebih cepat mengisi perut sedari tadi kelaparan. lokasi kedua yang kami dapat adalah tempat situs Petta bulu matanre konon beberapa artikel yang pernah saya baca beliau adalah sosok tokoh yang memerintah di daerah ini ada yang bilang beliau berasal dari Luwu bahkan adapula yang mengatakan bahwa beliau dari Makkah.

Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya, cuman bisa saja kita yang terlalu jauh bermain dengan realitas hingga spritual tak sempat kita pandang
Di lokasi camp kedua menjadi lokasi yang paling bermakna, sempat mengunjungi salah satu makam ber sejarah dan pada hakikatnya kembali mengingatkan diri bahwa kita pasti akan menyusul. Setelah dari sini saya pun mencari latar belakang sosok petta bulu matanre namun tak kunjung mendapatkan lebih banyak referensi. Setelah melewati malam di Camp ke dua di tempat ini pula kami harus memutuskan untuk melanjutkan perjalan ke lokasi lainnya atau kembali pulang namun rekan saya mengatakan lebih baik kita akhiri perjalan dan kembali kerumah, keputusan itu adalah salah satu pilihan yang terbaik dengan estimasi beberapa kemungkina resiko yang harus kita hadapi kedepannya jika melanjutkan perjalanan belum lagi untuk kembali pulang kita masih harus menginap semalam kemudian berjalan kaki lagi hingga sampai pada daerah terendah. Melangkahkan kaki saja saya sudah merasa puas karena niat telah tersampaikan berkelana di pegunungan Soppeng, hampir seminggu kami berada di sana banyak beberapa hal yang belum sempat ku ceritakan tapi dari tulisan inilah yang mewakili cerita lainnya.

Comments
Post a Comment