Penulis : Eki
Saya tiba pada malam hari di pegunungan Umpungeng bersama 3 rekan seperjalanan, sebelum sampai di tujuan motor yang saya tumpangi mengalami kecelakaan dibagian as roda depan bengkok dan tidak bisa lagi di kendarai pada saat itu juga, namun ke inginanku cukup besar demi melanjutkan perjalanan. Beberapa orang mengatakan tidak usah untuk melanjutkan, ada juga yang mengatakan kalau ingin melanjutkan kembali dulu kerumah perbaiki perasaan hingga menciptakan suatu dilema pada pikiran saya, berkat konsolidasi akal dan hati saya pun menyampaikan lewat kata yang halus dengan tidak menyinggung tradisi seseorang ketika hendak keluar rumah, hal - hal negatif di benak tidak pernah luput menyertai perjalanan ini tetapi pada waktu itu saya memiliki naluri dan keyakinan yang susah untuk disampaikan ada suatu perasaan yang lebih dominan untuk menuntun saya bahwa saya sampai di Umpungeng dengan selamat, Alhamdulillah setelah kejadian itu kami ber 4 tiba di lokasi camp dekat dari situs Megalitikum.
Setelah mendirikan tenda tiba - tiba ada seorang wanita menghampiri kami, kalau dilihat dari fisiknya berumur 20 an keatas wanita ini hendak menyampaikan kepada kami pesan dari orang tuanya "dirumah ki istrahat" seperti itulah maksudnya, apakah setiap musafir hendak di perlakukan seperti ini ?, mudah - mudahan mereka yang masih peduli dengan kondisi seseorang selalu diberikan keberkahan di setiap masa hidupnya. Kami pun meng iyakan tapi bukan untuk menginap cuman sekedar bertamu menemui ke dua orang tuanya, Jujur kami tidak mau merepotkan keluarga itu. Setelah mengakhiri makan malam yang sederhana kami pun bergegas ke rumah wanita itu untuk menemua orang tuanya sesampainya dirumah kayu ini kami langsung di suguhkan kopi hangat di temani dekan kue kering, situasi ini menambah selera ketika dingin sudah mulai menggerutu di setiap permukaan kulit. Cerita panjang malam ini tak pernah kenal waktu sedari tadi kami berbincang dengan hangat mulai dari asal hingga tujuan pada akhirnya rasa ngantuk mulai mengakhiri percakapan kami.
Ke esokan harinya ke 3 rekan saya keluar sebentar untuk melihat - lihat apa saja yang ada di Umpungeng namun saya tidak ikut menyertai mereka, saya lebih memilih untuk tinggal dirumah sambil bercerita dengan nenek yaitu orang tua dari wanita semalam, beliau menceritakan tentang sejarah megalitikum yang ada di samping rumahnya juga tradisi pembersihan rambut arung palakka pada acara pattaungeng. Yang membuat saya kagum dengan beliau adalah pemahaman serta kalimat yang tersampaikan di telinga saya adalah kalimat yang memiliki makna yang dalam beliau mampu memberikan pemahaman yang begitu ringkas namun berisi, seperti ilmu itu sangat dekat dengan beliau padahal tak ada jenjang pendidikan formal yang ia terima, apa kah karena kebersihan hati seorang nenek dan juga pengalamannya yang selalu di sandingkan dengan tanda - tanda alam untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih subtansial?. Entahlah ada kalimatnya yang sampai sekarang masih saya ingat dalam bahasa bugis "Nak idi makekue manyameng ni yaku meloki magguru, de' nasipada iya riolo" ("Anak kita enakmi kalau mau belajar, tidak sama saya dulu") sambungnya ("tapi guru tongeng - tongeng iyanaritu Ati"(guru sebenar - benarnya adalaha hati).
Comments
Post a Comment